Halaman

Kamis, 25 April 2013

TAAT yang tidak BUTA

Kisah Para Rasul 9:1-18
Pemuda GKI Pengadilan
21 April 2013

SEORANG  filsuf mengatakan, “Jangan gembira sebelum wafat!” Mengapa? Karena segala sesuatu bisa berubah. Memang, segala sesuatu di dunia ini selalu berubah, kecuali satu hal. Ya, hanya ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu kenyataan bahwa segala sesuatu berubah. Dalam setiap perubahan, selalu berkaitan dengan tiga hal,  yaitu: input, proses, output.

Secara formal, kampus sering disebut sebagai agent of change. Para lulusan SMA yang bukan siapa-siapa, setelah beberapa tahun mengalami proses belajar-mengajar, keluar sebagai seorang insinyur, dokter, ekonom, atau sarjana di bidang lainnya. Bagaimana dalam konteks yang informal? Seseorang yang masuk dalam sebuah pergaulan pasti akan mengalami perubahan, entah baik atau buruk. Sepasang pemuda dan pemudi yang berpacaran juga bisa mengalami pengaruh dari proses interaksi antara satu dengan lainnya. Sang pemuda, sedikit-banyak akan terpengaruh oleh gadis pujaannya; demikian pula sang gadis pun akan mengalami hal serupa.

Saulus adalah seorang penganut agama Yahudi yang taat. Sayangnya, ketaatan Saulus kepada agama Yahudi adalah ketaatan yang buta (fanatik). Dalam perjumpaannya dengan Kristus,  ia mengalami perubahan secara radikal. Karena kefanatikannya, Saulus mau membasmi siapa saja yang tidak lagi setia kepada agama Yahudi. Dengan legitimasi imam di Yerusalem, Saulus  mengejar-ngejar para pengikut Kristus dan tak segan menindas bahkan membunuhnya. Kali itu, Saulus meminta surat kuasa untuk membasmi umat Kristen di Damsyik. Namun hal itulah yang membawanya pada perjumpaan dengan Kristus.

Dalam perjalanan Saulus menuju Damsyik, Yesus menjumpainya dalam kemilau cahaya yang menyilaukan. “Siapakah engkau, Tuhan?” teriak Saulus ketika dirinya tersungkur. Dan ia pun mendengar Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang engkau aniaya!”.  Saulus pun mengalami kebutaan temporer. Namun Yesus menyuruhnya masuk ke kota dan berjanji untuk memberitahukan hal yang harus dilakukan Saulus. Dituntun kawan seperjalanan, Saulus masuk kota dan menumpang di rumah Yudas di Jalan Lurus. Tiga hari Saulus tidak makan atau minum dan ia giat berdoa.

Pada saat yang bersamaan, Yesus meminta Ananias menjadi mitra untuk menyembuhkan Paulus. Mulanya Ananias menampik karena ia mengetahui reputasi Saulus yang begitu jahat. Tetapi Yesus menyatakan bahwa Ia telah memilih Saulus untuk berkarya di hadapan para raja, menjangkau bangsa-bangsa, tanpa melupakan umat Israel. Setelah mendengarkan maksud Allah yang  maha dahsyat itu, Ananias pun bersedia dipakai untuk melayani Saulus. Ia menuju rumah Yudas dan melakukan ritus penumpangan tangan. Alhasil, Saulus dapat melihat kembali dan dibaptiskan. Setelah mengalami perubahan, Saulus berganti nama menjadi Paulus. Maka rumusnya S + Y = P.
Perjumpaan dengan Tuhan mengubah Saulus dan Ananias menjadi pribadi berkarakter pelayan. Proses yang mereka alami tak semudah membalik telapak tangan. Sebagai pemimpin yang biasanya memberi komando, Saulus justru harus dituntun dan bergantung kepada kawan-kawan seperjalanan.  Selama tiga hari, ia mengalami kebutaan. Selama itu pula ia tidak makan (puasa) dan terus berdoa. Kepada Ananias, Yesus mengatakan bahwa Saulus akan mengalami banyak penderitaan ketika menjalankan tugas-Nya. Dengan berbagai pergumulan Saulus  mengalami proses perubahan. Bukan hanya Saulus, Ananias pun mengalaminya. Setidaknya, ia harus membuang kebencian terhadap Saulus dan berjuang melawan rasa takut ketika menghadapinya. Selain itu, Ananias juga harus berusaha merendahkan hati sehingga mampu melayani Saulus yang diangapnya ‘musuh’. 

Sebagaimana Saulus dan Ananias, kita juga patut mengembangkan spiritualitas yang taat pada Kristus. Dalam ketaatan itulah, Ia memproses kita. Mungkin saja kita mengalami berbagai pergumulan, sama seperti tanah liat yang sedang dibentuk oleh tukang penjunan.Demikian pula sebagai pemuda, kita juga adalah agen perubahan bagi sesama dalam lingkup pergaualan. Dalam hal ini peran kita ialah memperjumpakan para sahabat muda dengan Tuhan Yesus agar mereka mengalami perubahan hidup dan menaati Kristus.  Untuk itulah kita tidak menutup diri, tetapi terbuka untuk berteman dengan siapa saja dan meneladankan ketaatan kita kepada-Nya. Mungkin selama ini kita memiliki fanatisme terhadap denominasi gereja kita. Menganggap diri paling benar dalam soal ajaran maupun pemeliharaan tradisi tertentu. Jika demikian, kita harus mengalami proses pembaruan diri untuk melihat yang lain sebagai bagian tak terpisahkan dari gereja Tuhan yang esa dimana Kristus menjadi Kepala.

Dalam konteks Indonesia yang plural ini, para pemuda gereja patut bergaul dengan yang lebih luas di kalangan gereja, gereja-gereja, dan komunitas lintas iman. Tuhan Yesus mengubah sikap Saulus yang pada awalnya memusuhi orang lain yang berbeda, menjadi sikap yang terbuka pada bangsa-bangsa lain. Tuhan Yesus juga mengubah sikap Ananias yang semula pilih-pilih dalam melayani menjadi terbuka untuk  melayani siapapun, bahkan musuh yang paling jahat sekalipun. Saat ini, Tuhan Yesus juga menghendaki kita untuk bergaul dengan siapapun, tanpa membedakan SARA. Selanjutnya, dalam berteman, kita menebar aura positif bagi para sahabat. Dengan demikian kita dapat menyatakan kesaksian melalui keteladanan hidup. Mungkin selama ini kita merasa aman berada dalam lingkungan internal dan merasa tak perlu keluar dari zona nyaman. Jika demikian kita juga harus mengalami proses penyadaran diri bahwa manusia tak adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa berdampingan dengan sesama. Hanya dengan keterbukaan, kita bisa mewujudkan kerukunan hidup berbangsa sekaligus berperanserta bagi kemajuan Indonesia.

Apakah artinya ‘Taat yang tidak buta’? Ia bukan fanatik,  tapi juga tidak larut. Para pemuda dan pemudi Kristen dapat bergaul bebas, namun perlu menguasai diri. Ingatlah bahwa Tuhan mengutus umat-Nya ke dunia sebagai garam dan bukan digarami. Kita bebas untuk berteman dengan siapa saja, tetapi apakah kebebasan itu akan dipakai secara membabi-buta? Ketika menentukan pasangan hidup, misalnya. Cinta memang buta, tetapi pertimbangan yang masak mutlak diperlukan.

Sikap taat yang tidak buta juga menjadi panduan utama bagi pemuda dan pemudi yang berpacaran. Sudahkah kita menjadi pacar yang memberi inspirasi dan semangat kepada kekasih kita? Jika ‘ya’, apakah pengaruh positif itu hanya muncul di awal saja, atau kita nyatakan secara konsisten? Semoga kita menjadi pribadi yang taat dalam keterbukaan. Amin.

Pdt. U.T. Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar