Halaman

Kamis, 25 April 2013

Dimensi-dimensi Puasa

Matius 6:18-20

Remaja GKI Pengadilan
Minggu 21 April 2013
 

PADA umumnya kita mengenal pasangan terdiri dari dua unsur (dikotomi), misalnya: suami-isteri, laki-perempuan, gelap-terang, baik-buruk, dst. Tetapi ada juga pasangan yang terdiri dari tiga unsur (trikotomi). Misalnya manusia, ada yang memahami bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, tetapi ada juga yang memahami manusia sebagai kesatuan tubuh, jiwa dan roh. Makanan yang kita makan sehari-hari juga terdapat tiga unsur, selain sebagai makanan yang kasat mata dan bersifat netral, di dalamnya juga ada sifat racun dan sifat obat. Dalam pemahaman Budis dikenal Brahma (pencipta), Syiwa (perusak), dan Wisnu (pemelihara). Dalam Kekristenan juga kita mengenal Allah Tritunggal, yaitu kesatuan Bapa (Pencipta), Anak (Penyelamat), dan Roh (Pemelihara). 

Bagaimana dengan Puasa? Puasa memiliki beberapa dimensi. Pertama, secara pribadi, puasa bermanfaat bagi kesehatan. Puasa melatih badan dengan cara mengatur waktu atau porsinya. Kedua, secara sosial, puasa juga melatih kepekaan sosial, merasakan derita sesama yang berkekurangan, timbul empati untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Dalam kedua hal tersebut, puasa merupakan sebuah perbuatan baik.

Manusia menghargai puasa sebagai perbuatan baik. Tidak semua orang dapat melaksanakan perbuatan baik, misalnya berpuasa. Orang yang mampu berpuasa tentu dianggap lebih baik daripada yang tidak mampu melakukannya. Yesus menengarai ada orang-orang  yang memanfaatkan fenomena itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan kekaguman, sanjungan dan pujian dari sesamanya. Misalnya dengan mengubah air muka supaya orang lain dapat melihat bahwa dirinya sedang berpuasa.

Yesus mengingatkan bahwa puasa bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri maupun dalam perelasian dengan sesama secara  horizontal. Selain itu,  puasa juga memiliki keterkaitan secara vertikal dengan Tuhan. Tuhan yang Mahatahu memberi upah terhadap hal baik yang dilakukan umat-Nya. Oleh karena itu melakukan puasa bukan sekadar lahiriah, apalagi pura-pura. Puasa patut dilakukan dengan sungguh bahkan dengan motivasi yang benar. Jika kita ingin mendapat penghargaan atau pujian atau perkenan Allah Bapa. Dengan demikian, kita melihat dimensi ketiga dari puasa, yaitu dimensi spiritual.

Secara spiritual, puasa melatih kita untuk menahan diri dari hawa nafsu yang umumnya tertuju pada kepuasan batin. Puasa yang demikian adalah buah dari pekerjaan Roh Kudus, yaitu penguasaan diri. Dapat dikatakan bahwa puasa adalah  latihan menuju pertobatan.  Surat I Tim 4:8 mengatakan, “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah bermanfaat dalam segala hal karena mengandung janji baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang.” Oleh karena itu, sekalipun puasa merupakan hal baik dan bermanfaat, namun kita juga perlu memberi makna yang lebih luas sebagai latihan spiritual.

Puasa dalam arti mengendalikan makan dan minum bermanfaat untuk melatih fisik, namun makna puasa bukan sekedar itu, melainkan dapat diperluas. Perluasan makna puasa ialah mengendalikan diri dalam segala hal. Hal ini merupakan salahsatu ujud dari ketaatan kita pada pimpinan Roh Kudus. Jika demikian, pada gilirannya, puasa akan menjadi sebuah latihan rohani atau latihan spiritual yang manfaatnya mencakup kehidupan pada masa kini maupun kehidupan masa datang. Bagi umat beriman, puasa memiliki korelasi dengan ibadah.

Suatu hari, ketika ada seorang yang dirasuk setan, murid-murid Yesus ingin menolong, tetapi mereka tidak dapat mengusir roh jahat itu. Mereka datang kepada Yesus dan bertanya, “Tuhan mengapa kami tidak dapat mengusir setan dalam nama-Mu?” Maka Yesus pun menjawab, “Jenis ini tidak dapat ditaklukkan, kecuali dengan doa dan puasa.”  Firman Tuhan ini mengingatkan kita untuk tak mengabaikan kuasa doa dan puasa dalam kehidupan orang percaya. Maka kita perlu waspada agar tdiak puasa beribadah, tetapi perlu berpuasa supaya dapat beribadah! Bukan puasa berdoa, tetapi berdoa dan berpuasa agar mampu mengalahkan godaan hidup yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah.

Hidup bukan sekadar mengejar kesenangan. Bagi kaum remaja, khususnya para pelajar, puasa bisa diwujudkan dengan mengendalikan diri dari memboroskan waktu. Misalnya puasa bermain atau melakukan sesuatu yang memuaskan diri sendiri. Waktu yang berhasil dihemat dapat dialokasikan untuk belajar. Dengan alokasi waktu yang memadai, para pelajar dapat fokus pada tugas utama, khususnya ketika menghadapi Tes Akhir Smester, dan mengikuti Ujian Sekolah atau Ujian Nasional.

Puasa juga dapat diwujudkan dengan mengendalikan diri dalam membelanjakan uang. Misalnya, puasa membeli barang-barang
yang kurang berguna meskipun kita menyukainya. Uang yang berhasil dihemat dapat dapat dialokasikan untuk mewujudkan kepedulian sosial atau dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan. Di sekitar kita maungkin ada teman yang membutuhkan pertolongan, kita dapat menyatakan perhatian dengan memberikan sesuatu kepadanya. Jika bukan teman, dalam masyarakat pasti banyak orang yang hidup di bawah garis kesejahteraan. Uang yang mungkin kecil bagi kita pastinya akan sangat berarti bagi mereka. Selain untuk kepedulian sosial, uang hasil puasa belanja juga dapat dipersembahkan untuk pekerjaan Tuhan yang penggunaannya dikelola oleh gereja. 

Satu hal lagi yang tak boleh kita lupakan, puasa dapat diwujudkan dengan mengendalikan diri dari dosa (Yesaya 1:16-18). Lebih dari sekadar berpuasa, sang nabi meminta umat untuk berhenti berbuat jahat. “Basuhlah, bersihkanlah dirimu dari berbuat jahat di depan mata-Ku.”  Sebagai gantinya, umat diharapkan melakukan hal yang baik. “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik, kendalikanlah orang kejam, belalah hak anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda”. Jika umat berpuasa (bahkan berhenti) berbuat dosa, sang nabi menjamin bahwa umat akan mendapatkan anugerah pengampunan Allah yang tak terbatas: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju, sekalipun dosamu merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Amin. 

Pdt. U T Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar