Halaman

Jumat, 26 April 2013

Si Bunga Melati

Bakal Pos Jemaat GKI Taman Yasmin
16 Januari 2011

PERGANTIAN nama merupakan fenomena yang umum terjadi dalam masyarakat kita. Dalam dunia hiburan, penyanyi pemula dari desa diganti namanya biar keluar aura hoki-nya dan menjadi populer. Dalam dunia waria, seseorang yang siang hari bernama Toto, kalau malam berganti menjadi Titi.

Nama bukan hanya memiliki arti, tetapi juga mengandung pengharapan tertentu. Seorang ayah  menamai anaknya Subakti dengan pengharapan agar si anak kelak menjadi orang yang dapat berbakti kepada orang tuanya. Jika terjadi sesuatu dalam kepribadian atau peruntungan dalam diri seorang anak, maka lazim pula terjadi penggantian untuk melakukan penyesuaian. Anak yang sakit-sakitan diganti namanya menjadi ‘Bejo’ atau ‘Selamet’, atau pemuda yang stress karena ‘keaboten jeneng’ diganti namanya menjadi lebih merakyat. 

William Skakespeare pujangga Inggris abad XVI pernah mengatakan, ‘What is in a name?’ Arti apa yang ada dalam sebuah nama? Setangkai mawar, tetap mempesona, apapun namanya. Setangkai mawar akan menghipnotis kita terbang ke mahligai cinta. Skakespeare bukan hendak menisbikan makna sebuah nama tetapi ia hendak mengatakan bahwa sebuah nama memiliki ‘greget’ yang menyatu dengan sesuatu yang dinamainya itu.

Injil Yohanes 1:29-42 memuat dua kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus yang terjadi sehari setelah Yohanes membaptiskan-Nya. Jadi peristiwa itu masih segar dalam ingatan Yohanes. Peristiwa kedua terjadi keesokan harinya, mengisahkan tentang dua orang murid Yohanes meninggalkannya dan mengikut Yesus. Lalu, Andreas (salah satu dari dua murid Yohanes) mengajak Simon untuk mengikut Yesus pula. Kejadian yang berturut-turut ini menunjukkan dinamika pemilihan Illahi yang amat cepat. Selanjutnya Yesus menatap Simon dan mengganti namanya. Setiap penggantian nama pasti punya makna. 

Lalu apa makna nama baru Simon? Penggantian nama Simon bukan sekadar inisiasi atau tanda penerimaan dirinya menjadi murid Yesus. Sebab tidak semua murid Yesus yang 12 itu mengalami pergantian nama. Penggantian nama Simon tentu mempunyai maksud khusus. Dalam percakapan sehari-hari, Yesus menggunakan bahasa Aram. Ia mengganti nama Simon dengan nama Aramik, yaitu Kefas. Padanan arti Kefas dalam bahasa Yunani ialah Petrus. Artinya batu (batu karang). Dalam Injil Matius 16:18 penggantian nama Simon ini disertai penjelasan khusus. Di sana Yesus mengatakan, ‘Di atas batu karang ini, akan kudirikan jemaat-Ku’. Jatidiri Petrus dibentuk oleh Yesus selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Dalam kurun waktu itu pribadi Petrus menjadi lebih tegar seperti batu karang. 

Menurut Skakespeare apapun namanya, orangnya tetap Simon. Tetapi Nama ‘Kefas’ atau ‘Petrus’ yang melekat pada seorang Simon telah memberi ‘greget’ baru dalam dirinya. Bagaimanakah greget dari pergantian nama Simon menjadi Kefas atau Petrus? Kisah Para Rasul 2 mencatat peristiwa di hari Pentakosta. Ketika Petrus berkhotbah ada 3.000 orang bertobat dan jemaat Kristus yang pertama pun lahir. Ucapan Yesus terlah terbukti. Simon telah menjadi Petrus, si batu karang.

Saudara, Tuhan ingin kita menjadi bagian dari rencana-Nya untuk menyatakan damai sejahtera (syalom) bagi umat manusia dan dunia. Ia mempersiapkan kita sejak semula, bahkan ketika kita masih dalam kandungan. Tiap pengalaman hidup makin menambah intensitas perjumpaan kita dengan Dia. Maukah kita dipanggil, dibentuk dan diutus oleh Tuhan?

Minggu ini tanggal 16 Januari 2011 kita beribadah di gedung Harmony. Ini adalah sebuah kesempatan khusus untuk menenangkan gejolak situasi sebulan terakhir. 19 Desember 2010 kita beribadah untuk pertama kalinya di dalam gedung. 20 Desember 2010 pagar kembali disegel. 25 Desember 2010 kita menyelenggarakan malam refleksi Natal dan penyalaan lilin di trotoar, nyaris berhimpitan dengan orang-orang yang menentang pendirian gereja. 26 Desember 2010, sepanjang jalan Abdulah bin Nuh disterilkan aparat. Jemaat terhimpun dalam dua kelompok di ujung-ujung batas lokasi yang disterilkan aparat. Kali itu kita hanya sempat berdoa singkat dikelilingi pagar betis polisi. 02 Januari 2011 situasi masih belum jelas. 09 Januari 2011 samasekali tidak beribadah. Kamis 13 Januari 2011 kita memperoleh kepastian keputusan Mahkaamah Agung yang menolak PK Pemda kota Bogor. Artinya, persoalan hukum telah tuntas.

Deretan peristiwa di hari-hari tersebut adalah bagian dari perjuangan kita mewujudkan pendirian gereja sebagai tempat untuk beribadah. Apakah nama gereja kita? Sesuai dengan tradisi GKI nama tiap jemaat dikaitkan dengan nama jalan atau sebuah kompleks di mana jemaat tersebut berlokasi. Jemaat kita, sekalipun belum diresmikian, tetapi sudah dikenal dengan sebutan GKI Taman Yasmin.

Mendengar kata Yasmin, ingatan saya tertuju pada dua hal. Pertama, Yasmin mengingatkan kita pada sosok putri cantik. Dalam kisah 1001 malam, sang putri berjodoh dengan pemuda tampan bernama Aladin. Menjadi pribadi yang cantik merupakan dambaan banyak perempuan. Mereka tak segan mengeluarkan biaya untuk membeli alat make-up dan menghabiskan waktu untuk berdandan di depan cermin. Semua orang ingin agar kecantikan itu bertahan dalam kurun waktu yang lama. Kalaupun tidak bisa melawan proses agging, maka setidaknya bisa dipertahankan sedikit lebih lama. Bagaimanapun kecantikan merupakan daya tarik yang memikat. Saya mengharapkan jemaat GKI Taman Yasmin menjadi gereja yang cantik agar memikat banyak orang untuk datang dan berbakti kepada Tuhan. Dan kecantikan ini bukan kecantikan sesaat tetapi harus dijaga kelanggengannya. Adik-adik dan generasi muda perlu menjaga dan merawatnya dan melanjutkan di masa yang akan datang.

Kedua, mendengar kata Yasmin ingatan kita juga langsung tertuju pada bunga melati. Setidaknya bunga itu memiliki tiga karakteristik, yaitu kecil, putih, dan harum. Sebagai GKI Taman Yasimin, kita juga perlu memiliki ketiga karakteristik tersebut. Dr. E. F. Schumacher pakar ekonomi asal Jerman pelopor pengembangan dunia ketiga, mengatakan, ‘Small is beautifull’. Sesuatu yang kecil itu indah adanya. Kita memang kecil. Bila dibandingkan dengan jemaat yang lain, kita tidak ada apa-apanya. Tapi kehadiran gereja Tuhan di muka bumi ini bukan untuk dibandingkan sekalipun harus saling bersandingan. Sekalipun kita kecil, kita harus memiliki jatidiri yang kuat seperti batu karang. Kita sekalian harus berupaya memancarkan karakteristik ‘Kefas’ atau ‘Petrus’. Sekalipun kecil, tetapi tangguh!

Pada umumnya, bunga melati berwarna putih. Putih tidak hanya terlihat bersih dan indah tetapi juga merupakan simbolisasi dari kebenaran atau kejujuran. Kita mahfum terhadap pemaknaan universal yang diberikan kepada warna bendera Indonesia. Merah putih dipahami sebagai berani karena benar. Dalam hal apapun kita perlu menyatakan kebenaran dan menjunjung kejujuran. Para praktisi peradilan mempunyai jargon ‘sekalipun langit runtuh, kebenaran harus ditegakkan!’ Sebagai pengikut Kristus, kita menegakkan kebenaran karena Dia adalah Sang Jalan Kebanaran dan Hidup.

Karakteristik lain dari bunga melati ialah menebarkan keharuman yang semerbak mewangi. Karena keharuannya bunga Yasmin disukai orang. Saya berharap kelak GKI Taman Yasmin dalam pelayanan dan kesaksiannya mampu menebarkan keharuman bagi sesama jemaat, masyarakat sekitar bahkan menjangkau kawasan yang lebih luas. Hendaknya keharuman itu membuat banyak orang menyukainya, hingga pada puncaknya semua orang akan memuliakan nama Tuhan.

Saudara-saudara jemaat, kita masing-masing punya nama. Saya mengajak saudara sekalian untuk menanyakan apakah arti nama Anda masing-masing? Apapun nama kita, marilah menyerahkan diri untuk merespons panggilan Tuhan dan bersedia dibentuk serta diutus oleh-Nya. Seperti Simon dibentuk menjadi Petrus yang tegar. Sebagai anggota jemaat gereja Yasmin, sekalipun kecil, kita tetap berupaya untuk menyatakan kebenaran dan menebarkan keharuman! Amin.
Pdt. U. T. Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar