Halaman

Jumat, 19 April 2013

Dari Ratapan, Menjadi Pengakuan Iman

Kisah Para Rasul 9:1–20
Mazmur 30:2–13
Wahyu 5:11–14
Yohanes 21:1–19

KEBAKTIAN PASKAH III
GKI Cimahi - 14 April 2013

Tujuan: Umat meyakini berita bahwa Yesus sungguh bangkit, terlepas dari segala upaya manusia untuk membuktikan kebangkitan-Nya secara ilmiah dan agar kita memahami bahwa berita kebangkitan Yesus membawa pengharapan dan kekuatan untuk menghadapi pergumulan hidup

1. Manusia umumnya sulit menerima keadaan sehingga lebih sering meratap ketimbang bersyukur. Di sebuah kota tersebutlah seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Di segala cuaca, ibu ini selalu mengeluh kepada Tuhan. Ketika musim kemarau, ia ingat anak sulungnya yang berjualan payung. Sang ibu takut dagangan anaknya ini tidak laku sehingga setiap hari berdoa meminta agar segera datang musim penghujan. Anehnya, ketika musim penghujan datang, si ibu langsung teringat anak bungsunya yang berjualan cendol. Karena ia juga sayang pada anak bungsunya, maka setiap hari berdoa meminta agar segera datang musim kemarau supaya banyak orang kehausan dan minum es cendol. Alhasil, Tuhan bingung dan mengutus malaikatnya untuk bertanya kepada kita yang ada di sini. Bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh umat beriman?

2. Tujuh orang murid Yesus semalaman mencari ikan tanpa hasil. Mereka adalah Simon Petrus,Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes), dan dua orang lainnya. Tiga diantara mereka adalah nelayan, berpengalaman yaitu Simon, Yakobus dan Yohanes. Danau Tiberiaas yang biasanya merupakanladang berkat karena terkenal banyak ikannya, malam itu ternyata tak memberikan berkat. Pada hari itu, fajar yang menyingsing sebagai simbol pengharapan juga tidak memberi harapan. Dalam kondisi ini wajarlah kalau mereka meratapi keadaan.

3. Dalam kondisi yang kurang baik dan mungkin diwarnai pula dengan ratapan dalam hati para murid, Yesus menampakan Diri. Ia menampakan Diri di tempat para murid-Nya mencari nafkah. Ini bukan sekedar membuktikan kebangkitan-Nya, tetapi juga menunjukkan bahwa Ia peduli pada kehidupan para murid. Sebagaimana kehadiran Yesus kepada para murid sesudah kebangkitan-Nya
maka Ia pun mau hadir dalam ruang juang kita pada masa kini. Ia mau menyapa kita dalam rumah tangga, di sekolah, di tempat kerja, dalam perjalanan, pelayanan, dan dimanapun kita berjuang.

4. Para murid pun mengalami berkat yang luar biasa. Itu terjadi bukan karena mereka telah bekerja keras di tempat yang tepat, di waktu yang tepat, atau karena berpengalaman, melainkan karena ketaatan kepada perintah Yesus. Menebarkan jala dari sebelah kanan perahu pada saat fajar mulai merekah merupakan tindakan sia-sia dari kacamata nelayanan berpengalaman, tetapi ketaatan pada Yesus membuat mereka melakukannya.

5. Yesus mengajak para murid merayakan berkat yang baru mereka dapat dengan menikmati sarapan secara bersama. Dalam kehadiran, berkat dan ucapan syukur itulah muncul pengakuan iman para murid kepadaTuhan Yesus yang bangkit. Tak ada berkat terlalu kecil untuk disyukuri, bahkan sepiring nasi dalam persekutuan di meja makan.

6. Yesus mengutus para murid, khususnya Petrus untuk melayani tanpa jeda. Menggembalakan domba milik Tuhan dari muda sampai tua, bahkan sampai mati demi memuliakan nama Tuhan. Seperti Petrus, Paulus juga dipanggil untuk melayani bangsa-bangsa, raja-raja, orang non Yahudi dan umat Allah. Bukan hanya kepada Petrus dan Paulus, Tuhan Yesus juga memanggil kita untuk melayani.

7. Pelayanan berarti memperjumpakan umat dengan Kristus yang Hidup sekaligus Sang Pemberi Hidup. Pelayanan juga berarti memperjumpakan umat dengan Sang Sumber berkat. Dengan demikian, pelayanan merupakan sebuah upaya menolong umat untuk mengubah ratapan menjadi pengakuan akan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Amin.

Pdt. U.T. Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar