Halaman

Jumat, 26 April 2013

[SBS-Net; 24 Maret 2013] "Selamat Datang, Penatua Baru"


Kisah Para Rasul 6:1-7

 24 Maret 1940 merupakan tanggal lahir GKI Djawa Barat. Waktu itu gereja-gereja Tiong Hoa di Djawa Barat mendirikan Thay Hwee (sinode) sebagai sebuah perhimpunan gereja-gereja Tiong Hoa di Djawa Barat. Dengan diikrarkannya penyatuan tiga Sinode GKI (Jabar, Jateng, Jatim) pada tahun 26 Agustus 1988 maka Sinode GKI Jabar menjadi Sinode Wilayah Jabar.

Pada 24 Maret tahun ini, GKI SW Jabar telah mencapai usia 73 tahun. Untuk menandai peringatan hari ulang tahun tersebut, di lingkup Sinode Wilayah Jawa Barat, dalam kebaktian Minggu 24 Maret 2013, secara serentak  dilayankan Peneguhan Penatua periode April 2013 sampai Maret 2016.

Mengawali langkah dalam periode pelayanan baru, saya mengajak kita sekalian melihat pengalaman gereja perdana yang tertera dalam Kisah Para Rasul 6:1-7. 

PERTUMBUHAN ANGGOTA DAN TANTANGAN GEREJA
Dua bentuk layanan gereja perdana ialah pemberitaan injil dan pelayanan meja berupa pembagian kepada janda-janda. Melayani sesama yang butuh pertolongan merupakan bagian dari hukum Tuhan yang tidak kalah penting dibanding dengan pemberitaan injil. Tuhan Yesus pernah mengatakan, “orang miskin akan selalu ada padamu.” Mereka adalah anak yatim piatu, para janda atau orang asing yang mengembara dan yang membutuhkan pertolongan (Yes 1:16-17). Adapun yang dimaksud janda adalah mereka yang usianya tidak kurang dari 60 tahun, hanya sekali bersuami, tidak mempunyai anak atau keluarga, dan hidupnya bergantung penuh pada Allah (Tim 5:3-16).

Ketika jumlah murid Kristus bertambah, timbulah sungut-sungut diantara orang-orang Yahudi berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Pertumbuhan gereja secara kuantitas ternyata diiringi persoalan penatalayanan. Solusi apa yang ditempuh para rasul terhadap fenomena itu?

PENATUA DIPILIH UNTUK MENJAWAB TANTANGAN PELAYANAN
Tidak meratanya pelayanan membuat sebagian anggota merasa kurang diperhatikan. Sementara itu, para rasul juga tidak bisa menggunakan waktu dan tenaga untuk terus melayani mereka, karena pasti menghambat pemberitaan injil. Situasi ini mendorong keduabelas rasul mengumpulkan para murid untuk memilih tujuh orang yang dapat dipercaya melayani orang miskin. Oleh karena itulah LAI memberi judul “Tujuh orang dipilih untuk melayani orang miskin”.

Para rasul memberi panduan bagi jemaat dalam memilih. Calon hendaknya memiliki tiga syarat, yakni: pribadi yang dikenal baik, penuh Roh dan berhikmat. Setelah seluruh jemaat menerima usul itu, mereka memilih: Stefanus yang penuh iman dan Roh Kudus, Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas, dan Nikolaus,  seorang penganut agama Yahudi dari Antiokia. Kemudian mereka menghadapkan ketujuh orang itu kepada para rasul untuk didoakan serta mendapatkan penumpangan tangan. Hal itu merupakan tanda pengesahan jabatan sekaligus pencurahan berkat.

Dengan ditetapkannya tujuh orang ini maka para rasul fokus pada tugas pemberitaan injil. Pada sisi lain, keterlibatan para penatua dalam pelayanan gereja ternyata sangat luar biasa. Pertama, para rasul dapat berkarya dengan leluasa sehingga Firman Allah makin tersebar. Kedua, jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak. Ketiga, ada sejumlah besar imam yang menyerahkan diri dan percaya. Keempat, secara implisit, persoalan pelayanan meja yang dilakukan sehari-hari berupa pembagian kepada janda-janda juga dapat merata tanpa pembedaan. Dengan begitu, tidak lagi ada sungut-sungut sehingga kehidupan berjemaat pun berjalan tenteram dan damai.

KETERLIBATAN JEMAAT DALAM PROSES PEMILIHAN PENATUA
Berdasar pengalaman gereja perdana di atas, kita dapat merefleksikan beberapa hal sebagai berikut. Pertumbuhan gereja adalah fakta yang patut disyukuri, sekaligus dikelola. Jemaat-jemaat GKI umumnya berlokasi di kota, sehingga mengalami pertumbuhan pesat karena banyak kaum urban yang menggabungkan diri menjadi anggota. Anggota jemaat dan masyarakat memiliki ekspektasi tinggi terhadap kinerja pelayanan gereja, yakni pelayanan yang prima, merata dan tidak membedakan. Penatua dipilih untuk menjawab tantangan pelayanan agar para pendeta dapat fokus pada pelayanan pemberitaan Injil. Meski Majelis Jemaat memiliki peran penting sebagaimana diatur oleh Tata Gereja, namun keterlibatan jemaat juga diperlukan proses pengambilan keputusan, utamanya untuk hal penting dan mendasar. Dapat dikatakan bahwa kekuatan gereja adalah pada jemaatnya. Pemimpin gereja sejati ialah mereka yang tidak mengabaikan anggota jemaatnya.

Bagaimana proses pemilihan penatua di GKI? Pemilihan Penatua di GKI melalui proses panjang dalam doa dan pergumulan bersama Tuhan serta melibatkan penatua maupun jemaat. (a) Majelis Jemaat membentuk Panitia Pemilihan Personalia  yang anggotanya terdiri dari penatua yang akan habis masa jabatannya agar tidak menimbulkan vested of interest. (b) Anggota jemaat diberi kesempatan untuk mengusulkan nama-nama Calon Penatua. (c) Panitia menyeleksi  nama calon yang diusulkan secara administratif keanggotaan, kemampuan, maupun teladan hidupnya. (d) Hasil seleksi panitia ditimbang kembali oleh rapat Majelis Jemaat (e) Setelah diputuskan oleh Majelis Jemaat, para calon dikunjungi untuk diminta kesediaannya. (f) Nama calon yang sudah menyatakan kesediaan diwartakan untuk didukung dan didoakan oleh jemaat. (g) Calon yang didukung jemaat dilengkapi dengan pembinaan-pembinaan. (h) Setelah melalui semua proses tersebut, Calon diteguhkan sebagai Penatua dan memulai pelayanannya.

Sekalipun demikian dalam kenyataannya hal itu tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sempurna. Sesekali ada juga penatua yang tidak bisa menjalankan peran dan fungsi sebagaimana diharapkan. Namun setidaknya proses pemilihan penatua di GKI diyakini sebagai upaya yang sudah melibatkan Tuhan dan jemaat-Nya.

SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MELAYANI
Jabatan Gerejawi adalah Pelayanan. Dengan demikian, Pejabat Gerejawi adalah seorang Pelayan (bukan Pejabat apalagi Penguasa). Dalam pemahaman GKI, pejabat gerejawi adalah Majelis Jemaat yang terdiri dari Pendeta dan Penatua. Khusus di Klasis Priangan, dilakukan pembedaan antara Penatua yang menangani pengajaran dan Penatua yang menangani kepelayanan (Diaken). Para pejabat gerejawi juga dipandang sebagai pemimpin yang melayani.

Dengan diteguhkannya para penatua maka pendeta dapat lebih leluasa melayankan firman. Untuk itu, tiap penatua patut mengarahkan diri pada Kristus dan meneladani sikap-Nya.  Keterlibatan penatua dalam pelayanan gereja diharapkan dapat menjawab pergumulan dan tantangan gereja secara organisasi, management, penatalayanan keuangan, maupun pelayanan langsung kepada anggota jemaat yang membutuhkan. Jika itu terjalin dengan pemberitaan firman yang dilakukan pendeta, niscaya pelayanan kasih kepada anggota jemaat maupun kepada masyarakat dapat berjalan serentak, merata dan tanpa pembedaan.

Teriring ucapan “Selamat Datang dan Selamat Melayani” bagi para penatua yang diteguhkan pada tanggal 24 Maret 2013, baik bagi saudara-saudara yang diteguhkan untuk periode pertama maupun saudara-saudara yang melanjutkan pelayanan pada periode kedua, dst.  Selamat karena anda dipandang sebagai pribadi yang baik, hidup dalam ketaatan kepada Tuhan Yesus serta pimpinan Roh Kudus, dan memiliki hikmat. Seiring dengan itu, juga disampaikan penghargaan serta ucapan “Terima Kasih” kepada para penatua yang akan mengakhiri pelayanan pada 31 Maret 2013. Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!
Pdt. Ujang Tanusaputra
GEREJA KRISTEN INDONESIA
Jl. Pengadilan 35 - Bogor


Catatan:
Posting ini telah diterbitkan di SBS-Net (Selisip Berita Sinode Net) tanggal 24 Maret 2013
Lihat naskah PDF di sini!

Si Bunga Melati

Bakal Pos Jemaat GKI Taman Yasmin
16 Januari 2011

PERGANTIAN nama merupakan fenomena yang umum terjadi dalam masyarakat kita. Dalam dunia hiburan, penyanyi pemula dari desa diganti namanya biar keluar aura hoki-nya dan menjadi populer. Dalam dunia waria, seseorang yang siang hari bernama Toto, kalau malam berganti menjadi Titi.

Nama bukan hanya memiliki arti, tetapi juga mengandung pengharapan tertentu. Seorang ayah  menamai anaknya Subakti dengan pengharapan agar si anak kelak menjadi orang yang dapat berbakti kepada orang tuanya. Jika terjadi sesuatu dalam kepribadian atau peruntungan dalam diri seorang anak, maka lazim pula terjadi penggantian untuk melakukan penyesuaian. Anak yang sakit-sakitan diganti namanya menjadi ‘Bejo’ atau ‘Selamet’, atau pemuda yang stress karena ‘keaboten jeneng’ diganti namanya menjadi lebih merakyat. 

William Skakespeare pujangga Inggris abad XVI pernah mengatakan, ‘What is in a name?’ Arti apa yang ada dalam sebuah nama? Setangkai mawar, tetap mempesona, apapun namanya. Setangkai mawar akan menghipnotis kita terbang ke mahligai cinta. Skakespeare bukan hendak menisbikan makna sebuah nama tetapi ia hendak mengatakan bahwa sebuah nama memiliki ‘greget’ yang menyatu dengan sesuatu yang dinamainya itu.

Injil Yohanes 1:29-42 memuat dua kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus yang terjadi sehari setelah Yohanes membaptiskan-Nya. Jadi peristiwa itu masih segar dalam ingatan Yohanes. Peristiwa kedua terjadi keesokan harinya, mengisahkan tentang dua orang murid Yohanes meninggalkannya dan mengikut Yesus. Lalu, Andreas (salah satu dari dua murid Yohanes) mengajak Simon untuk mengikut Yesus pula. Kejadian yang berturut-turut ini menunjukkan dinamika pemilihan Illahi yang amat cepat. Selanjutnya Yesus menatap Simon dan mengganti namanya. Setiap penggantian nama pasti punya makna. 

Lalu apa makna nama baru Simon? Penggantian nama Simon bukan sekadar inisiasi atau tanda penerimaan dirinya menjadi murid Yesus. Sebab tidak semua murid Yesus yang 12 itu mengalami pergantian nama. Penggantian nama Simon tentu mempunyai maksud khusus. Dalam percakapan sehari-hari, Yesus menggunakan bahasa Aram. Ia mengganti nama Simon dengan nama Aramik, yaitu Kefas. Padanan arti Kefas dalam bahasa Yunani ialah Petrus. Artinya batu (batu karang). Dalam Injil Matius 16:18 penggantian nama Simon ini disertai penjelasan khusus. Di sana Yesus mengatakan, ‘Di atas batu karang ini, akan kudirikan jemaat-Ku’. Jatidiri Petrus dibentuk oleh Yesus selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Dalam kurun waktu itu pribadi Petrus menjadi lebih tegar seperti batu karang. 

Menurut Skakespeare apapun namanya, orangnya tetap Simon. Tetapi Nama ‘Kefas’ atau ‘Petrus’ yang melekat pada seorang Simon telah memberi ‘greget’ baru dalam dirinya. Bagaimanakah greget dari pergantian nama Simon menjadi Kefas atau Petrus? Kisah Para Rasul 2 mencatat peristiwa di hari Pentakosta. Ketika Petrus berkhotbah ada 3.000 orang bertobat dan jemaat Kristus yang pertama pun lahir. Ucapan Yesus terlah terbukti. Simon telah menjadi Petrus, si batu karang.

Saudara, Tuhan ingin kita menjadi bagian dari rencana-Nya untuk menyatakan damai sejahtera (syalom) bagi umat manusia dan dunia. Ia mempersiapkan kita sejak semula, bahkan ketika kita masih dalam kandungan. Tiap pengalaman hidup makin menambah intensitas perjumpaan kita dengan Dia. Maukah kita dipanggil, dibentuk dan diutus oleh Tuhan?

Minggu ini tanggal 16 Januari 2011 kita beribadah di gedung Harmony. Ini adalah sebuah kesempatan khusus untuk menenangkan gejolak situasi sebulan terakhir. 19 Desember 2010 kita beribadah untuk pertama kalinya di dalam gedung. 20 Desember 2010 pagar kembali disegel. 25 Desember 2010 kita menyelenggarakan malam refleksi Natal dan penyalaan lilin di trotoar, nyaris berhimpitan dengan orang-orang yang menentang pendirian gereja. 26 Desember 2010, sepanjang jalan Abdulah bin Nuh disterilkan aparat. Jemaat terhimpun dalam dua kelompok di ujung-ujung batas lokasi yang disterilkan aparat. Kali itu kita hanya sempat berdoa singkat dikelilingi pagar betis polisi. 02 Januari 2011 situasi masih belum jelas. 09 Januari 2011 samasekali tidak beribadah. Kamis 13 Januari 2011 kita memperoleh kepastian keputusan Mahkaamah Agung yang menolak PK Pemda kota Bogor. Artinya, persoalan hukum telah tuntas.

Deretan peristiwa di hari-hari tersebut adalah bagian dari perjuangan kita mewujudkan pendirian gereja sebagai tempat untuk beribadah. Apakah nama gereja kita? Sesuai dengan tradisi GKI nama tiap jemaat dikaitkan dengan nama jalan atau sebuah kompleks di mana jemaat tersebut berlokasi. Jemaat kita, sekalipun belum diresmikian, tetapi sudah dikenal dengan sebutan GKI Taman Yasmin.

Mendengar kata Yasmin, ingatan saya tertuju pada dua hal. Pertama, Yasmin mengingatkan kita pada sosok putri cantik. Dalam kisah 1001 malam, sang putri berjodoh dengan pemuda tampan bernama Aladin. Menjadi pribadi yang cantik merupakan dambaan banyak perempuan. Mereka tak segan mengeluarkan biaya untuk membeli alat make-up dan menghabiskan waktu untuk berdandan di depan cermin. Semua orang ingin agar kecantikan itu bertahan dalam kurun waktu yang lama. Kalaupun tidak bisa melawan proses agging, maka setidaknya bisa dipertahankan sedikit lebih lama. Bagaimanapun kecantikan merupakan daya tarik yang memikat. Saya mengharapkan jemaat GKI Taman Yasmin menjadi gereja yang cantik agar memikat banyak orang untuk datang dan berbakti kepada Tuhan. Dan kecantikan ini bukan kecantikan sesaat tetapi harus dijaga kelanggengannya. Adik-adik dan generasi muda perlu menjaga dan merawatnya dan melanjutkan di masa yang akan datang.

Kedua, mendengar kata Yasmin ingatan kita juga langsung tertuju pada bunga melati. Setidaknya bunga itu memiliki tiga karakteristik, yaitu kecil, putih, dan harum. Sebagai GKI Taman Yasimin, kita juga perlu memiliki ketiga karakteristik tersebut. Dr. E. F. Schumacher pakar ekonomi asal Jerman pelopor pengembangan dunia ketiga, mengatakan, ‘Small is beautifull’. Sesuatu yang kecil itu indah adanya. Kita memang kecil. Bila dibandingkan dengan jemaat yang lain, kita tidak ada apa-apanya. Tapi kehadiran gereja Tuhan di muka bumi ini bukan untuk dibandingkan sekalipun harus saling bersandingan. Sekalipun kita kecil, kita harus memiliki jatidiri yang kuat seperti batu karang. Kita sekalian harus berupaya memancarkan karakteristik ‘Kefas’ atau ‘Petrus’. Sekalipun kecil, tetapi tangguh!

Pada umumnya, bunga melati berwarna putih. Putih tidak hanya terlihat bersih dan indah tetapi juga merupakan simbolisasi dari kebenaran atau kejujuran. Kita mahfum terhadap pemaknaan universal yang diberikan kepada warna bendera Indonesia. Merah putih dipahami sebagai berani karena benar. Dalam hal apapun kita perlu menyatakan kebenaran dan menjunjung kejujuran. Para praktisi peradilan mempunyai jargon ‘sekalipun langit runtuh, kebenaran harus ditegakkan!’ Sebagai pengikut Kristus, kita menegakkan kebenaran karena Dia adalah Sang Jalan Kebanaran dan Hidup.

Karakteristik lain dari bunga melati ialah menebarkan keharuman yang semerbak mewangi. Karena keharuannya bunga Yasmin disukai orang. Saya berharap kelak GKI Taman Yasmin dalam pelayanan dan kesaksiannya mampu menebarkan keharuman bagi sesama jemaat, masyarakat sekitar bahkan menjangkau kawasan yang lebih luas. Hendaknya keharuman itu membuat banyak orang menyukainya, hingga pada puncaknya semua orang akan memuliakan nama Tuhan.

Saudara-saudara jemaat, kita masing-masing punya nama. Saya mengajak saudara sekalian untuk menanyakan apakah arti nama Anda masing-masing? Apapun nama kita, marilah menyerahkan diri untuk merespons panggilan Tuhan dan bersedia dibentuk serta diutus oleh-Nya. Seperti Simon dibentuk menjadi Petrus yang tegar. Sebagai anggota jemaat gereja Yasmin, sekalipun kecil, kita tetap berupaya untuk menyatakan kebenaran dan menebarkan keharuman! Amin.
Pdt. U. T. Saputra

Kamis, 25 April 2013

TAAT yang tidak BUTA

Kisah Para Rasul 9:1-18
Pemuda GKI Pengadilan
21 April 2013

SEORANG  filsuf mengatakan, “Jangan gembira sebelum wafat!” Mengapa? Karena segala sesuatu bisa berubah. Memang, segala sesuatu di dunia ini selalu berubah, kecuali satu hal. Ya, hanya ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu kenyataan bahwa segala sesuatu berubah. Dalam setiap perubahan, selalu berkaitan dengan tiga hal,  yaitu: input, proses, output.

Secara formal, kampus sering disebut sebagai agent of change. Para lulusan SMA yang bukan siapa-siapa, setelah beberapa tahun mengalami proses belajar-mengajar, keluar sebagai seorang insinyur, dokter, ekonom, atau sarjana di bidang lainnya. Bagaimana dalam konteks yang informal? Seseorang yang masuk dalam sebuah pergaulan pasti akan mengalami perubahan, entah baik atau buruk. Sepasang pemuda dan pemudi yang berpacaran juga bisa mengalami pengaruh dari proses interaksi antara satu dengan lainnya. Sang pemuda, sedikit-banyak akan terpengaruh oleh gadis pujaannya; demikian pula sang gadis pun akan mengalami hal serupa.

Saulus adalah seorang penganut agama Yahudi yang taat. Sayangnya, ketaatan Saulus kepada agama Yahudi adalah ketaatan yang buta (fanatik). Dalam perjumpaannya dengan Kristus,  ia mengalami perubahan secara radikal. Karena kefanatikannya, Saulus mau membasmi siapa saja yang tidak lagi setia kepada agama Yahudi. Dengan legitimasi imam di Yerusalem, Saulus  mengejar-ngejar para pengikut Kristus dan tak segan menindas bahkan membunuhnya. Kali itu, Saulus meminta surat kuasa untuk membasmi umat Kristen di Damsyik. Namun hal itulah yang membawanya pada perjumpaan dengan Kristus.

Dalam perjalanan Saulus menuju Damsyik, Yesus menjumpainya dalam kemilau cahaya yang menyilaukan. “Siapakah engkau, Tuhan?” teriak Saulus ketika dirinya tersungkur. Dan ia pun mendengar Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang engkau aniaya!”.  Saulus pun mengalami kebutaan temporer. Namun Yesus menyuruhnya masuk ke kota dan berjanji untuk memberitahukan hal yang harus dilakukan Saulus. Dituntun kawan seperjalanan, Saulus masuk kota dan menumpang di rumah Yudas di Jalan Lurus. Tiga hari Saulus tidak makan atau minum dan ia giat berdoa.

Pada saat yang bersamaan, Yesus meminta Ananias menjadi mitra untuk menyembuhkan Paulus. Mulanya Ananias menampik karena ia mengetahui reputasi Saulus yang begitu jahat. Tetapi Yesus menyatakan bahwa Ia telah memilih Saulus untuk berkarya di hadapan para raja, menjangkau bangsa-bangsa, tanpa melupakan umat Israel. Setelah mendengarkan maksud Allah yang  maha dahsyat itu, Ananias pun bersedia dipakai untuk melayani Saulus. Ia menuju rumah Yudas dan melakukan ritus penumpangan tangan. Alhasil, Saulus dapat melihat kembali dan dibaptiskan. Setelah mengalami perubahan, Saulus berganti nama menjadi Paulus. Maka rumusnya S + Y = P.
Perjumpaan dengan Tuhan mengubah Saulus dan Ananias menjadi pribadi berkarakter pelayan. Proses yang mereka alami tak semudah membalik telapak tangan. Sebagai pemimpin yang biasanya memberi komando, Saulus justru harus dituntun dan bergantung kepada kawan-kawan seperjalanan.  Selama tiga hari, ia mengalami kebutaan. Selama itu pula ia tidak makan (puasa) dan terus berdoa. Kepada Ananias, Yesus mengatakan bahwa Saulus akan mengalami banyak penderitaan ketika menjalankan tugas-Nya. Dengan berbagai pergumulan Saulus  mengalami proses perubahan. Bukan hanya Saulus, Ananias pun mengalaminya. Setidaknya, ia harus membuang kebencian terhadap Saulus dan berjuang melawan rasa takut ketika menghadapinya. Selain itu, Ananias juga harus berusaha merendahkan hati sehingga mampu melayani Saulus yang diangapnya ‘musuh’. 

Sebagaimana Saulus dan Ananias, kita juga patut mengembangkan spiritualitas yang taat pada Kristus. Dalam ketaatan itulah, Ia memproses kita. Mungkin saja kita mengalami berbagai pergumulan, sama seperti tanah liat yang sedang dibentuk oleh tukang penjunan.Demikian pula sebagai pemuda, kita juga adalah agen perubahan bagi sesama dalam lingkup pergaualan. Dalam hal ini peran kita ialah memperjumpakan para sahabat muda dengan Tuhan Yesus agar mereka mengalami perubahan hidup dan menaati Kristus.  Untuk itulah kita tidak menutup diri, tetapi terbuka untuk berteman dengan siapa saja dan meneladankan ketaatan kita kepada-Nya. Mungkin selama ini kita memiliki fanatisme terhadap denominasi gereja kita. Menganggap diri paling benar dalam soal ajaran maupun pemeliharaan tradisi tertentu. Jika demikian, kita harus mengalami proses pembaruan diri untuk melihat yang lain sebagai bagian tak terpisahkan dari gereja Tuhan yang esa dimana Kristus menjadi Kepala.

Dalam konteks Indonesia yang plural ini, para pemuda gereja patut bergaul dengan yang lebih luas di kalangan gereja, gereja-gereja, dan komunitas lintas iman. Tuhan Yesus mengubah sikap Saulus yang pada awalnya memusuhi orang lain yang berbeda, menjadi sikap yang terbuka pada bangsa-bangsa lain. Tuhan Yesus juga mengubah sikap Ananias yang semula pilih-pilih dalam melayani menjadi terbuka untuk  melayani siapapun, bahkan musuh yang paling jahat sekalipun. Saat ini, Tuhan Yesus juga menghendaki kita untuk bergaul dengan siapapun, tanpa membedakan SARA. Selanjutnya, dalam berteman, kita menebar aura positif bagi para sahabat. Dengan demikian kita dapat menyatakan kesaksian melalui keteladanan hidup. Mungkin selama ini kita merasa aman berada dalam lingkungan internal dan merasa tak perlu keluar dari zona nyaman. Jika demikian kita juga harus mengalami proses penyadaran diri bahwa manusia tak adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa berdampingan dengan sesama. Hanya dengan keterbukaan, kita bisa mewujudkan kerukunan hidup berbangsa sekaligus berperanserta bagi kemajuan Indonesia.

Apakah artinya ‘Taat yang tidak buta’? Ia bukan fanatik,  tapi juga tidak larut. Para pemuda dan pemudi Kristen dapat bergaul bebas, namun perlu menguasai diri. Ingatlah bahwa Tuhan mengutus umat-Nya ke dunia sebagai garam dan bukan digarami. Kita bebas untuk berteman dengan siapa saja, tetapi apakah kebebasan itu akan dipakai secara membabi-buta? Ketika menentukan pasangan hidup, misalnya. Cinta memang buta, tetapi pertimbangan yang masak mutlak diperlukan.

Sikap taat yang tidak buta juga menjadi panduan utama bagi pemuda dan pemudi yang berpacaran. Sudahkah kita menjadi pacar yang memberi inspirasi dan semangat kepada kekasih kita? Jika ‘ya’, apakah pengaruh positif itu hanya muncul di awal saja, atau kita nyatakan secara konsisten? Semoga kita menjadi pribadi yang taat dalam keterbukaan. Amin.

Pdt. U.T. Saputra